1. Eka

Namaku Muhammad Eka Saputra. Plain. Ya namaku memang terdengar dan terbaca biasa. Nama umum yang bisa dimiliki siapa saja di muka bumi Indonesia Raya ini. Umurku hampir 23 Tahun bulan Agustus nanti. Orang banyak bertanya, kenapa orang tua ku tidak menamai ku dengan, Agustian ? Atau Agus saja ? Nevermind that. Aku anak sulung dari 3 bersaudara. Adik-adik ku masih kecil kecil. Yang nomor 2 cowok, masih kelas 3 SD. Yang bungsu cewek, masih TK nol besar. Tapi, sudah tidak pernah merasakan kehadiran seorang Ayah di keseharian mereka.

Ya, Orang tua kami bercerai ketika ibuku mengandung si bungsu. Saat aku masih duduk di bangku SMA. Ayahku berkhianat. Ibuku di cerai ketika jawaban "tidak mau dimadu" keluar dari mulutnya. Perhatikan, bagaimana aku sebagai anak yang paling tua sudah seharusnya menaruh benci kepada Ayahku. Tapi tidak, ketika aku di beri pilihan untuk tinggal dengan siapa, aku dengan mantap memilih ayahku. Bukan karena aku benci ibuku, atau tidak menyayangi nya sama sekali. Tapi, aku orang yang realistis dan sangat memikirkan masa depan. Saat mereka bercerai, ibuku memilih kerumah orang tuanya yang berada di sebuah kota kecil berjarak 1 jam dari Kota ku sekarang. Dan ayah ku, tetap tinggal di rumah kami lama. Namun, dengan istri baru ditambah aku. Aku pikir, ketika aku pindah dengan ibuku, seketika kesempatan aku untuk memiliki impian bekerja di kota lenyap. Aku harus memaksa diri, untuk mencari kerja di sebuah kota kecil yang notabene cuma kukunjungi di hari hari besar untuk menjenguk nenek ku.

Kalian benci aku ? Silahkan. Aku punya rencana, disaat aku sudah mantap bekerja, aku akan bawa ibuku dan adik adik ku kembali ke kota besar ini. Dan tinggal dengan nyaman, bersama menantu nya yang juga istriku. Tunggu saja ibu.

---------------------

Hari panas. Bunyi jam di tangan ku sungguh sangat nyaring terdengar, meski normalnya hanya bisa di dengar ketika mendekatkan jarak antara pergelangan tangan dan telinga. Perutku berbunyi sebagaimana cacing cacing dalam perutku sudah kelaparan tampaknya. Sungguh ironis. Ironis ketika aku sesumbar menyombongkan gelar diploma ku kepada para pewawancara tadi. Dan nihil hasilnya.

Hape Polyphonic di saku ku berdering untuk kesekian kalinya. Pasti dari ibu ku. Sudah beberapa kali ibu menelepon ku hari ini. Semenjak semalam aku mengutarakan ke gundahan hatiku karena sudah capek menganggur dan melamar kerja sana - sini.

"Halo" jawabku malas,

"Ngga, kenapa susah bener jawab telpon ibu nak ?" Terdengat suara parau cemas ibu ku.

"Tadi lagi interview bu" jawabku sekenanya.

"Baiklah, paman mu Ilham adik ibu, tadi telepon. Dia lagi ambil proyek pabrik yang akan di bangun di dekat rumah"

"Terus bu ?" Aku sedikit penasaran.

"Pabrik itu, lagi tes produksi. Dia nanya, kamu mau kerja disini ngga ?"

Bagai bertemu oasis, sungguh aku senang mendengar kata kata ibu ku. Aku ingin sekali segera bekerja. Tapi, apa harus ku kubur niatku yg bekerja ke kota dan mengajak ibu dan adik - adikku kesini ?

"Memang pabrik apa itu bu ?" Ujarku mengulur waktu.

"Pabrik produksi minyak kelapa sawit"

Aku bimbang. Bagaimana bisa seorang lulusan diploma komputer bekerja di sebuah pabrik sawit ? Apa sekuat itu kekuatan relasi di dalam dunia kerja ? Jika benar, pantas interview ku sungguh terlihat drama pelengkap perusahaan yang tadi aku datangi dengan menyombongkan diri. Jika diterima, harus aku kubur mimpiku di kota ? Ah aku galau.

Ibuku mengerti. Dia mengakhiri percakapan kami dengan menyuruhku mengabari jika aku siap. Dan segera menyusul ibuku ke kota kecil tersebut. Aku berpikir keras di dalam perjalananku menuju rumah ku. Dilema antara mimpi, dan sebuah depresi menjadi pengangguran.

Sudah 6 bulan semenjak aku lulus kuliah, dan detik itu juga aku menjadi pengangguran yang banyak rencana sana - sini. Rencana melamar pekerjaan.

Tidak seperti yang aku duga, melamar pekerjaan bukan lah hal yang mudah di jaman modern yang penuh persaingan ini. Tanpa channel atau relasi, kita akan menemukan kesulitan, hanya cuma untuk di wawancara saja. Ya, untuk di wawancara saja begitu sulitnya. Padahal, berapa duit sudah keluar untuk mem-fotocopy berkas berkas dan mencuci pas foto untuk lamaran ? Berapa duit sudah untuk ongkos bensin motor yang aku belanjakan ?

Haaa, bayangan sukses menjadi buram. Rencana menjadi Alpha male yang sukses, perlahan menyusut.

-------------------------

Dengan sungkan, aku menjawab sapaan Ibu tiri ku. Aku terngiang pertanyaan pewawancara aku tadi siang. Dan telpon ibu ku kemarin. Apa sudah seharusnya aku bersikap dewasa dan menyerah ? Tapi, bukankah banyak petuah petuah motivator menyuruh kita tidak menyerah ?

Mungkin ini bukan suatu situasi yang tepat. Aku harus bergerak.

Lalu, aku memantapkan diri. Mengeluarkan hape jadul ku dari saku, dan mengetik pesan singkat ke nomor hape ibuku.

"Besok, aku kesana bu"

Komentar