3. Rangga

"Eka itu siapa sih ?" Tanyaku pada Thyas saat kami lagi berdua.

"Temen kerja" jawabnya ketus.

Makin hari, perubahan sikap Thyas makin terasa. Aku tidak merasa sudah berbuat salah belakangan ini, tapi kenapa dia jadi begitu ?

Apalagi, ku dapati ada chat di smartphone nya yang begitu mesra kalau cuma di kategorikan "temen kerja".

Aku cemburu.

Sampai aku sedikit emosi, lalu memilih untuk diam supaya tidak meledak di warung tempat kami berada itu.

"Sini hapenya !"

"Kamu tuh apaan sih ? Curigaan gitu, kek anak kecil tau gak !"

"Yaudah, jelasin siapa si eka itu !" Nada ku meninggi.

"Masa bodoh !"

Thyas hendak beranjak dari kursinya. Aku langsung memegang pergelangan tangannya kuat sekali karena terbawa emosi.

Aku lalu tersadar. Ini tak baik. Ini mencoret citra ku sebagai lelaki lembut. Lalu aku longgarkan peganganku, dan berkata lembut..

"Duduk dulu, yaudah kalau gamau cerita"

"Aku mau pulang Rangga !" Ujarnya.

Kulihat, mata nya mulai berkaca - kaca. Aku pun berdiri dan langsung memeluk dan mengecup pelan keningnya.

"Oke oke sayang, maaf"

Ku ajak Thyas berlalu dari warung es itu.

Sepanjang perjalanan mengantar Thyas, aku mulai berpikir.. apa yang salah dari ini ? Siapa Eka ini ? Siapa orang ini ? Mengapa Thyas jadi mudah acuh tak acuh kepada hubungan kami ? Setahun belakangan dia tak bisa marah sedikit pun kepadaku. Dan begitu juga sebaliknya. Selalu bertemu jalan keluar sebelum emosi ikut serta dalam urusan kami.

Aku pikir....

Aku hanya rindu dijadikan prioritas. Aku hanyalah lelaki yang ingin menjadi satu satu nya lelaki di kehidupan Thyas. Mungkin sedikit berlebihan, namun apa ada lelaki yang tak ingin dijadikan prioritas ?

Sampai saat ku antar Thyas pulang, tak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Mungkin ini yang terbaik baginya. Namun membingungkan bagi ku. Aku harus tahu dengan siapa dia bicara, dengan siapa dia berkeluh kesah, kalau aku lagi jauh dari sisi nya.

"Makasih" ujarnya.

Lalu menyalami tangan ku, dan menempelkannya di pipi nya. Seperti seorang adik ke kakaknya. Rutinitas biasa sebelum kami berpisah. Tapi kurasakan murung yang amat sangat di hati Thyas.

Ah..

Mungkin, seharusnya tak ku bahas ini saat kami sedang bersitegang. Mungkin, cara menanyaiku salah. Oke, aku akan berevolusi demi kamu Thyas. Aku akan menjadi lebih baik. Tunggu...

------------------------

Sabtu sore, aku izin pulang cepat dari kantor ku. Dengan alasan ada urusan keluarga. Namun, alasan sebenarnya.. tak lain adalah Thyas. Aku akan berikan kejutan untuknya. Aku akan menjemput nya dari tempat bekerja tanpa memberi tahu dia dulu. Dia akan senang. Bukankah, wanita senang dengan kejutan ?

Setelah berganti baju dan mempersiapkan coklat Silverqueen kecil kesukaan Thyas, aku bergegas ke arah motor ku. Ku pacu pelan motor besar yang ku beli dari hasil keringat ku sendiri itu. Aku membayangkan, pelukan hangat tubuh mungil Thyas, sebentar lagi akan ku rasakan. Malam ini, aku akan mampir kerumah nya. Sekaligus mau mengapel malam mingguan.

Sesampai aku di gerbang pabrik tempat Thyas bekerja, ku parkirkan motor ku di dekat pos satpam disana. Yang menjaga pos tersebut ialah pak Slamet. Aku kenal Pak Slamet ini karena sering menjemput Thyas. Dulu, pernah suatu hari hujan tiba - tiba datang saat aku lagi asyik menunggu Thyas pulang. Pak Slamet dengan ramah menawarkan untuk berteduh di pos yang dijaganya. Kami berkenalan sebentar, dan cepat akrab karena Pak Slamet orangnya supel.

"Jemput toh cah bagus ?" Dengan logat jawanya, dia menyapaku.

"Iya Pak, belum pulang sepertinya"

"Belum toh den, jam 5 kurang 10 menit ini. Kan mereka pulang jam 5 tepat" ujar Pak Slamet diiringi tawanya.

"Biar cepet pak, biar seneng yang di jemput kalau aku disiplin, hehe" ujarku sambil melirik jam tangan ku.

"Oalah, enak toh yang masih muda. Hahaha" ujarnya lagi.

Tak lama kami mengobrol, aku lihat mulai kerumunan karyawan pabrik tersebut keluar berbarengan. Aku antusias mencari sosok Thyas. Satu demi satu karyawan lewat dari pos satpam tempatku dan Pak slamet. Aku menunggu dengan antusias.

Tapi, setelah sekitar 10 menit. Seperti di sambar petir, hatiku hancur ketika melihat Thyas di bonceng oleh motor dengan sosok lelaki lain. Dan yang lebih membuatku terbakar amarah, ketika motor tersebut lewat di depan kami, tangan Thyas melingkar di pinggang lelaki itu. Aku naik pitam. Tanpa pamit dengan pak slamet, aku putar motor ku yang ku parkir tak jauh dari pos satpam. Aku sampai kepayahan memasukan kunci kontak motor ku karena panik yang ku derita. Setelah berhasil, tanpa menunggu aba - aba lagi, aku menarik gas motor ku kencang supaya menyusul Thyas dengan lelaki itu.

Karena motorku termasuk motor sport, tak perlu lama untuk menyusul mereka. Setelah tersusul, aku memotong laju mereka dengan gesit. Seperti nya lelaki tersebut terkejut dengan manuver ku dan menekan rem mendadak.

"Woy apaan sih !" Teriaknya mau marah.

Tunggu dulu sahabat, sebaiknya jangan memancing amarah ku lebih dari ini ! Ujarku dalam hati. Aku buka helm ku, dan aku berjalan dengan tergesah ke arah mereka.

"Rangga ?" Thyas buka suara.

Sama terkejutnya dengan Thyas, lelaki itu yang ku yakinin tak lain si Eka itu, segera mengecut mendengar nama ku di ucapkan oleh Thyas.

Thyas bereaksi. Thyas paham betul dengan ku. Aku akan mengamuk. Aku akan berubah, bukan lagi Rangga yang suka tertawa. Bukan lagi Rangga yang ramah. Bukan lagi Rangga yang akan melawak di setiap kesempatan. Seketika Thyas turun dari motor tersebut

"BUAK !"

Aku kalap. Helm ku yang ber-type helm sport, ku lemparkan ke arah lelaki tersebut tanpa sempat dia bereaksi. Lelaki itu tersungkur meringis. Aku hendak melanjutkan amarah ku dengan menghajarnya saat itu juga.

Namun Thyas setengah berlari ke arah ku, lalu memelukku.

"Sudah Rangga, maafin aku !" Ujarnya.

Dan kalian tahu ? Apa yang aku lakukan ?

Aku tak ingin menyakiti Thyas, meskipun aku bisa mendorongnya sekuat tenaga supaya melepasku. Tapi, aku lemah karena nya.

Dan ku alihkan tujuan pandang ku ke Thyas.

Dengan lembut aku bertanya,

"Ini yang kamu bilang temen ?"

"Maaf, aku.. aku... Aku minta maaf"

Air mata Thyas, mulai membasahi pipi putihnya. Aku sebisa mungkin menahan emosi, tapi tetap lah emosi. Ini sudah di luar nalar bagi ku. Ini tak masuk akal !

Thyas benar benar memelukku erat erat. Tangannya berusaha menstabilkan untuk memeluk tubuh gempal ku.

"Lepasin" kataku pelan. Thyas akhirnya menurut. Kulihat, lekaki itu masih memegang dada nya bekas hantaman helm ku. Aku memandangnya benci.

"Dengar, sekarang.. kamu tentuin masa depan kita. Ikut aku pulang, atau ikut dia ?"

Thyas meragu. Dan itu yang membuat ku bertambah perih.

Logika nya, dia pasti memilih aku bukan ? Yang sudah 2 tahun berpacaran dengannya, dan menghabiskan susah senang bersama nya selama 2 tahun !

Dan, hari itu...
Aku begitu terlihat bodoh....

Komentar