2. Thyas
"Hey"
Kata itu terdengar merdu di telingaku, saat aku membukakan pintu rumah ku untuk pria itu. Seorang lelaki yang sudah menjalin hubungan dekat dengan ku satu tahun belakangan ini.
Ranggadya Soebandi. Iya, itu namanya. Umurnya 2 tahun lebih tua daripada aku. Bekerja sebagai pegawai kantoran biasa, yang hobby olahraga ekstrim.
"Salam kek, hay hey hay hey" ujar ku ketus manja.
"Hehe, assalamualaikum" ujarnya sambil menarik tanganku, lalu di kecupnya ringan.
Aku tersenyum geli. Ada saja perlakuan Rangga yang membuatku merasa sangat di sayangi. Aku bisa di bilang sangat bahagia semenjak pacaran dengannya.
Dari cuma sekedar makan bakso, jalan jalan keliling kota kecil kami, selalu dia membuat ku tertawa. Tapi, yang tak kusuka darinya adalah sifatnya yang temperamen. Bisa marah sejadi - jadinya jika sesuatu ada yang tidak beres baginya. Itu saja. Yang lain, tetep suka. Hehe.
Tubuhnya tinggi, berkulit agak gelap, dengan rambut lurus sedang nya yang selalu di sisir ke belakang meski begitu kering selalu terbelah ke samping. Orangnya humoris, sedikit sedikit tertawa. Ah, Rangga. Aku bisa apa jika kamu se asyik itu?
Aku kembali menutup pintu rumah ku.
"Loh, ibu mana ?" Tanyanya.
"Kan ke pasar, mau jualan"
"Oh iya, udah izin kan ? yaudah yuk cabut" ujarnya lagi
Kami hari ini mau ke kota besar. Rencana Rangga mau menonton film bioskop yang entah apa judulnya. Katanya sangat seru.
"Kamu tahu ngga, apa beda nya kamu sama motor aku ?" Tanya nya sambil mengelus tanki motornya yang berwarna hijau.
"Engg.. apa ?" Jawabku langsung nyerah, ingin segera tahu jawabannya.
"Kalo motor aku, di cicil biar lunas. Kalo kamu, di cicil biar sah"
Sangat tidak nyambung, tp niatnya itu loh yang bikin gemes. Kami tertawa bareng di atas motor yang melaju pelan. Tanpa sadar, aku mempererat pelukan aku kepadanya.
"Duh neng, nempel amat sih" ujarnya sok gerah aku peluk.
"Biar, orang sayang kok" jawabku riang. Dia cuma tersenyum kecil di balik helmnya. Ya, aku tahu di pasti tersenyum.
Entah ini ke berapa kali kami jalan jalan ke Kota besar. Hanya saja, hari ini terasa spesial. Mulai dari pakaian ku yang serba baru, high heels yang kata Rangga mirip heelsnya biduan Dangdut tapi aku suka. Dan Rangga, baru beli jaket yang katanya punya Tony Hawk waktu lagi mampir ke Indo. Cuma itu yang baru.
Mungkin karena sudah lama tidak ke Kota untuk jalan jalan, jadi excited ketika dia mengutarakan rencananya minggu lalu melalui sms.
"Haha neng, abis nonton aku mau ngajak kamu ke suatu tempat"
"Kemana ?"
"Ada aja, tp entar jangan marah dulu ya kalo baru sampe ke pintu masuknya. Begitu sampai ke dalem tempatnya baru kamu mau marah atau nggak, ya ?"
Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya, tapi yasudah lah. Asal dengan Rangga, aku rela ke neraka pun. Haha. Naif ? Naif memang. Tapi, begitulah rasanya. Aku mengakui belum bisa dewasa. Tapi, Rangga pun tidak menunjukan penolakan dari tingkah ku.
Dan tak terasa, kami sudah hampir sampai ke bioskop.
---------------
Motor Rangga menjauh dari mall tempat bioskop. Sehabis nonton tadi, kami sempat makan dahulu. Lalu bergegas pergi. Keburu sore kata Rangga. Memangnya, mau di ajak kemana aku ya ? Kebun binatang ? Ah itu kan sudah. Candi ? Belum sih, tp apa iya ? Kan 1 jam lagi dari sini, dan disisi berlawanan dari arah pulang. Yasudahlah, aku nurut saja.
"Seru ya film nya ?" Tanyanya sambil menyeruput Pepsi yang kami beli di bioskop tadi.
"Iya, apalagi jagoannya" jawabku antusias.
"Yaelah, liat yang macho dikit aja udah kesemsem. Haha." Rangga menggoda ku.
"Iya kek kamu" aku mencubitnya ringan.
Rangga bercerita banyak sepanjang perjalanan kami menuju tempat itu. Dan aku juga banyak tertawa dengan guyonannya. Dari mengisi suara orang di lampu merah, menggoda Cabe, sambil ngajak kebut kebutan mamang ojek yang motornya pasti kalah jauh dr motor besar si Rangga. Ah, aku jadi ingat momen itu.
Aku lupa kalau kami sedang menuju suatu tempat, aku hanya ingin berlama lama dengan rangga. Waktu weekend, terasa kurang. Ingin segera berumah tangga dengannya, dan bertemu tiap hari dengan jagoan hitam ku ini.
Aku tidak melebih - lebihkan. Kalian juga pernah merasakan Jatuh cinta kan ? Iya kan ?
"Thyas" ujarnya ketika motor berhenti di suatu tempat yang agak sepi. Rangga melepas helmnya, lalu membantu melepas helm ku, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya.
"Happy aniversary 1 tahun sayang" ujarnya. Lalu dengan cepat mengecup dahiku.
Aku terdiam, tersenyum, bahagia, tak mampu berkata-kata. Kejutan ini sungguh bearti. Aku bahkan tak mengingat sama sekali, kalau hari ini adalah ultah jadian ku dengan Rangga. Sungguh, Rangga. Aku sungguh mencintai ku dengan sangat kalau begini jadinya. Darah muda ku, sungguh berdebar ke kepala sangking senangnya. Dengan refleks, aku tarik wajahnya dan mengecup bibirnya lama. Untung tempat kami berada itu sepi, meski siang karena tidak ada bangunan di sisi kami, hanya beberapa ruko di seberang yang tampaknya sepi.
"Gila kamu, haha" ujarnya sambil mengusap bibirnya yang tadi aku kecup.
"Makasih" ujarku tersenyum manis, lalu menangis.
"Lah kesambet apa ya ini bocah, senyum kok malah nangis, hahaha" ujarnya lalu mengambil sapu tangan dari kantong celananya, untuk di usapkan ke mataku.
Aku senggukan. Rangga bingung, tp tetep kalem.
"Thyas, kamu siap dengan kejutan selanjutnya ?"
Apa ? Ada lagi ? Aku siap rangga, aku siap kamu buat senang terus - menerus hari ini. Aku siap menjadi istrimu. Begitu pikirku, sambil mengangguk.
"Aku ingin, kita berdua masuk ke situ"
Dia lalu menunjuk ke seberang kami.
"Ngapain ke ruko ?" Tanyaku heran.
"Bukan Rukonya oon, tapi gedung gede di belakanganya"
Aku langsung terdiam ketika membaca tulisan besar yang terpajang di gedung tersebut. Jalan masuk gedung tersebut memang membelah beberapa ruko di depannya, makanya aku bingung.
"Hotel XXX"
Ya, yang di maksud Rangga adalah kami berdua masuk ke dalam sebuah hotel.
"Untuk apa ?" Tanyaku polos.
"Kamu beneran ngga ngerti, atau ngetes ini ?" Ujarnya mencubit pipi ku.
"Kamu mau ngajak aku mesum ?" Kataku nalar.
"Iya" katanya penuh kepercayaan diri.
"Denger yash, aku tahu ini ngga pantes. Aku tahu, kita harusnya berdua dalam suatu ruangan hanya kalo sudah kita nikah. Tapi, kamu tahu segala perihal tentang aku. Dan kamu juga tahu, gaji aku berapa, tabungan aku berapa, rencana aku apa ke depannya sudah aku jabarkan sama kamu. Dan aku, ingin merasakan terisolasi dengan kamu berjam - jam dengan segera. Bercerita. Aku harap, kamu jangan berpikir kita cuma mesum. Tapi, juga saling bertukar emosi, kata, di sana nanti.. dan aku juga..."
"Ayo"
Aku langsung memotong omongannya. Aku tahu maksudnya. Aku tahu kosekuensi nya. Aku tahu dosanya. Tapi, saat itu aku di butakan oleh cinta. Cinta seorang gadis lugu dari kota kecil karena keromantisan kata dan laku dari lelaki tampan yang berasal dari kota besar ini. Aku tahu. Dan, bukankah tadi di awal aku juga menyebutkan, bahwa aku juga siap di bawa Rangga ke neraka saat ini juga ?
Aku naif, aku malah memeluknya erat sambil bernafas berat di lehernya sepanjang perjalanan ke hotel tersebut. Aku suka aneh dengan Rangga, selama satu tahun, apa dia menunggu selama itu untuk mengajak aku melakukan, ehm maaf.. Sex ?
Dan aku juga, kaget aku dengan mudahnya mengiyakan ajakan itu.
------------------------
Ceklek..
Rangga membuka pintu kamar hotel yang tadi kami booking di resepsionis di bawah. Dengan membawa beberapa snack, kami masuk ke kamar tersebut. Jantungku berdebar kencang. Hari ini, aku berada dalam satu kamar dengan seorang pria. Yang sangat aku cintai, dan aku banggakan dalam setiap doa'ku dan cerita ku.
"Kita ngga akan macem - macem kok. Aku janji ngga akan ngapa - ngapain kamu, kecuali kamu yang apa - apain aku" Rangga tersenyum sambil kembali mengunci pintu kamar tadi.
Aku tersenyum kecil. Masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu rebah di ranjang. Rangga ikut. Kami saling pandang. Batinku, lelaki ini akan menuntun hidupku di masa yang akan datang. Aku yakin itu.
Lalu kami Tertawa kecil. Lalu aku menyodorkan jari kelingking tangan kananku ke Rangga. Dia mengerti, dan mengaitkan kelingkingnya juga di sana. Tanpa kata - kata kami telah berjanji. Bahwa ini akan menjadi rahasia besar dalam hidup kami. Dan kami berdua akan menanggungnya sampi kapanpun. Tanpa ku sadari, aku mengecup bibir Rangga dengan dalam, dan penuh suka cita. Dan membuat kami larut akan nafsu. Hari ini, aku akan menjadi wanita dan bukan gadis lagi. Rangga, akan menjadi lelaki bukan lagi bocah.
Dan...
Hari ini.... aku sangat bodoh.
Komentar
Posting Komentar